Sunday, 27 January 2013

Ayah ibu yang gigih...


Namanya Lana. Bayi lelaki berusia empat bulan itu datang di hari Sabtu siang bersama ayah, ibu, dan tantenya. Lana begitu menggemaskan dengan badannya yang montok. Bobotnya sudah nyaris mencapai sembilan kilogram. Menurut ibunya, selain minum ASI, Lana juga mendapatkan tambahan susu formula -- meski tak terlalu banyak. Ia pun sudah mencoba makan bubur. Padahal, di usia seperti Lana, biasanya bayi hanya mendapat susu. Wah, tak mengherankan jika tubuh Lana menjadi gendut…

Ternyata mereka datang dari jauh, tepatnya dari kota Genteng, Banyuwangi. Kira-kira 1,5 jam perjalanan untuk sampai ke Jember. Sepertinya ayah dan ibunya sengaja menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Jember, bertandang ke rumah tantenya. Dan tampaknya tantenya lah yang sangat antusias membawa Lana ke studio. Beberapa hari sebelumnya, tante itu pula yang membuat janji foto. Ia pun paling antusias saat sesi pemotretan hingga seleksi foto.

Ayah ibu Lana cukup ganteng dan cantik. Sepertinya mereka berdua adalah pasangan pekerja, karena menurut cerita mereka, Lana sehari-harinya bersama asisten rumah tangga. Untunglah Lana adalah tipe bayi yang tak terlalu rewel dan merepotkan.

Ibu Lana senantiasa terheran-heran, mengapa anaknya tak memiliki kulit yang putih bersih seperti dirinya. Ketika melihat foto-foto, ia seringkali ragu jika dalam foto tersebut kulit Lana terlihat gelap. Menurut perkiraanku, warna kulit Lana menurun dari pihak ayahnya, yang sepertinya memiliki sedikit keturunan darah Arab.

Saat sesi pemotretan berlangsung, bayi yang lahir di Banyuwangi dengan jalan caesar itu agak susah tersenyum – padahal semua suporter sudah sedemikian heboh menggoda dan memancing senyumnya. Saat kupasangkan wig, tantenya menginginkan wig itu terpasang dengan sempurna. Namun yang terjadi, wig itu malah melorot ke bawah hingga menutupi kedua mata Lana. Tentu saja hal ini membuat Lana histeris karena tiba-tiba ia tak bisa melihat apa-apa. Lana menangis keras-keras.



Sekali menangis, Lana susah sekali ditenangkan. Sudah beberapa kali ibunya memberinya ASI dan menimang-nimang kesana kemari, tapi Lana tak juga diam. Ah, rupanya bayi lucu itu sedang amat lelah dan mengantuk. Terbukti, kemudian ia cepat sekali tertidur. Sebenarnya aku sedikit agak kecewa karena seharusnya sesi pemotretan belum waktunya usai. Dalam hati, aku tak habis pikir mengapa mereka memilih jam pemotretan yang terlalu siang –  yang kebanyakan adalah waktu tidur siang anak.

Tapi ayah ibu dan tante Lana tak pantang menyerah. Mereka semua antusias sekali membuat foto Lana. Sampai-sampai Lana yang tertidur terpaksa dibangunkan berkali-kali. Itu membuatku sedikit geli dan tertawa-tawa sendiri. Kasihan Lana, sepertinya ia sangat capai… Bahkan saat sesi pemotretan berlangsung, Lana pun sempat tertidur beberapa kali, tak kuat menahan matanya untuk tetap terbuka, tak peduli digendong dengan posisi apapun. Sementara itu, orang tua dan tantenya sangat berhasrat besar untuk mencoba segala macam variasi foto. Sayangnya, keadaan Lana yang sedang tidak mood foto semakin tak memungkinkan. Kusarankan, kalau lain kali hendak berfoto kembali, pilih jam ketika Lana sedang bersemangat. Mereka berkata akan membawa Lana kembali saat ulang tahun Lana yang pertama nanti. ***



Bertemu mama yang cantik...


Sebenarnya aku agak lupa nama bayi yang satu ini. Tapi jika tak salah ingat, orang tuanya memanggilnya Rawan…. Usianya menginjak satu tahun, dan sepertinya ia baru saja berulang tahun. 

Rawan tergolong bayi yang tak terlalu sulit dalam sesi pemotretan. Apalagi kedua orang tuanya pun cukup kooperatif. Tak jarang Rawan mengobral senyum dan tawanya, terutama ketika sang ayah yang menggodanya. Sepertinya, bocah laki-laki ini cenderung lebih dekat pada sang ayah.

Sesi pemotretan berlangsung tak terlalu lama. Saat kuperkirakan cukup, aku segera menyudahinya. Apalagi, kulihat mood Rawan pun mulai menurun. Rupanya memang benar, kondisi kesehatan Rawan sedang kurang prima. Di akhir pemotretan, ia mulai banyak menangis. Ayahnya sempat memeriksa suhu tubuh Rawan, dan ternyata tubuhnya agak sedikit demam. Ia segera mengambil susu botol dan menyusuinya – sementara sang ibu mulai sibuk menyeleksi foto.

Ibu Rawan tergolong wanita yang cukup cantik dan modis. Ia bercerita, katanya sebentar lagi hendak membuka sebuah butik busana muslim yang ternyata tempatnya tak terlalu jauh dari studio, yakni di depan panti asuhan tempatku mengajar. Rupanya ia menyewa pada Pak Kiai pemilik panti asuhan tersebut. Di hari yang lain, aku sempat melewati (calon) tokonya  yang didekorasi dengan nuansa pink, yang masih dalam tahap renovasi. Sempat pula aku bercerita pada Bu Nyai, istri Pak Kiai panti asuhan tersebut, bahwa yang menyewa tokonya itu pernah memotretkan anaknya di tempatku.

Aku dan Ibu Rawan sempat mengobrol banyak hal sembari memilih-milih foto; mulai dari harga sewa ruko, tempat pembuatan neon box, tempat grosir busana muslim di Jakarta, hingga soal blackberry dan tablet. Ia hanya menyewa ruko selama satu tahun. Sepertinya ia benar-benar harus menghemat anggaran usaha. Ah, ini mengingatkanku pada masa-masa awal aku mendirikan studio. Sangat menyenangkan mengobrol dengan wanita cantik itu, nyaris seperti kawan sendiri yang sudah lama kenal. Ia merayuku, supaya nanti kalau tokonya sudah buka, aku berbelanja di tempatnya. Aku juga menyarankan supaya foto Rawan diperbesar menggunakan kertas banner dan dipajang di tokonya – seperti kebanyakan customerku yang lain.

Saat pengambilan foto dan melihat-lihat hasilnya, ia bercerita bahwa tetangga sebelah tokonya, sebuah toko pigura, memajang foto anaknya dalam ukuran besar, yang memang pernah foto di studio beberapa tahun lalu. Ia terheran, mengapa foto yang terpajang tersebut memiliki logo BabyLove Studio -- sementara foto-fotonya tak berlogo. Kujelaskan, bahwa aku hanya memberi logo untuk yang melakukan perbesaran di atas 10R. Ibu Rawan hanya mengambil paket foto dan tidak melakukan perbesaran, jadi ia hanya menerima foto seukuran 4R. Tentu saja ini adalah salah satu alasan mengapa harga cetak ulang perbesaran di studioku sedikit lebih mahal daripada di laboratorium foto umumnya. Jawabannya adalah Logo. ***



Sunday, 20 January 2013

"Bayi Noah adalah Mukzizat"

Fabian Noah baru berusia tiga bulan. Bayi montok itu datang ke studio pada pukul empat sore. Biasanya, cuaca pada jam-jam tersebut seringkali hujan. Pada siang hari, hujan memang sempat deras. Namun menjelang sore, langit berubah merona cerah.

Noah, demikian panggilannya, datang bersama ibu dan kakak ibunya. Mereka mengendarai motor. Tak pelak, Noah sempat tertidur di jalan. Rupanya, semilir angin meninabobokannya.

Namun sesampai di studio, bayi montok itu lekas terbangun ketika diletakkan di atas matras. Seolah ia merasa siap untuk difoto, meski sempat terlihat bingung karena kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Sebenarnya ia adalah bayi yang pintar. Sama sekali tak rewel,meski agak sulit memancing senyum dan tawanya. Menurut ibunya, Noah memang bayi yang tak terlalu merepotkan. Ia hanya menangis jika merasa haus atau ngompol.

Untuk bayi-bayi seusia Noah, tak banyak kostum yang tersedia. Saya hanya memakaikannya kostum kumbang bayi. Selebihnya banyak menggunakan kreasi -- seperti handuk, bulu-bulu, atau dedaunan. Saya pun meminta sang ibu untuk foto bersama bayi Noah.

Ibu Noah sepertinya masih teramat muda. Kira-kira berusia dua puluh lima tahun atau di bawahnya. Itu terlihat dari caranya menggendong yang masih sedikit kurang luwes. Namun selama sesi pemotretan, baik ibu maupun anak bekerja sama dengan sangat baik.



Pemotretan berjalan selama kurang lebih empat puluh menit. Setelah itu, kami semua melihat hasil foto di komputer. Di sela aktivitas memilih foto, sang kakak dari ibu Noah sempat bercerita bahwa saat berusia dua puluh hari, Noah sempat nyaris tak terselamatkan. Saat itu, tetiba ia menderita demam hingga kejang-kejang. Keluarga membawa Noah ke unit gawat darurat di rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan, dokter mendiagnosa bahwa Noah menderita pendarahan otak. Salah satu solusinya adalah melakukan operasi pembedahan kepala. Namun itupun mengandung resiko; bayi meninggal, atau cacat.

Kata-kata dokter seperti sengatan petir di siang hari. Tak ada yang menyangka bayi semungil itu mendapatkan musibah seberat itu. Sempat ada rasa curiga, jangan-jangan pendarahan itu dipicu dari kesalahan perlakuan oleh dokter atau perawat ketika Noah lahir.

Keluarga Noah sempat merasa putus asa setelah mengetahui resiko yang dapat terjadi pada Noah. Belum lagi biaya pengobatan yang amat mahal. Tubuh Noah sempat menjadi amat kurus saat proses pengobatan di rumah sakit. Sang ibu banyak menangis melihat banyak selang di tubuh anaknya, juga jarum suntik yang tak henti-henti. Akhirnya mereka memilih pasrah, sekedar menjalankan terapi sisa pengobatan.

Namun sungguh ajaib, karena lambat laun, Noah berangsur-angsur sembuh -- meski tanpa operasi sekalipun. Tubuhnya pun kini menjadi lebih berisi. Sejauh ini, ia hanya mendapatkan ASI. Meski begitu, ia masih tetap harus rutin kontrol ke rumah sakit. ***