Namanya Lana. Bayi
lelaki berusia empat bulan itu datang di hari Sabtu siang bersama
ayah, ibu, dan tantenya. Lana begitu menggemaskan dengan badannya yang montok.
Bobotnya sudah nyaris mencapai sembilan kilogram. Menurut ibunya, selain minum
ASI, Lana juga mendapatkan tambahan susu formula -- meski tak terlalu banyak. Ia pun sudah mencoba
makan bubur. Padahal, di usia seperti Lana, biasanya bayi hanya mendapat susu. Wah, tak mengherankan jika tubuh Lana menjadi gendut…
Ternyata mereka datang
dari jauh, tepatnya dari kota Genteng, Banyuwangi. Kira-kira 1,5 jam perjalanan untuk sampai ke Jember. Sepertinya ayah dan ibunya sengaja menyempatkan waktu untuk berkunjung ke
Jember, bertandang ke rumah tantenya. Dan tampaknya tantenya lah yang sangat antusias membawa Lana
ke studio. Beberapa hari sebelumnya, tante itu pula yang membuat janji foto. Ia pun paling antusias
saat sesi pemotretan hingga seleksi foto.
Ayah ibu Lana cukup ganteng
dan cantik. Sepertinya mereka berdua adalah pasangan pekerja, karena menurut
cerita mereka, Lana sehari-harinya bersama asisten rumah tangga. Untunglah Lana adalah tipe bayi yang tak terlalu rewel dan merepotkan.
Ibu Lana senantiasa
terheran-heran, mengapa anaknya tak memiliki kulit yang putih bersih seperti
dirinya. Ketika melihat foto-foto, ia seringkali ragu jika dalam foto tersebut kulit Lana terlihat
gelap. Menurut perkiraanku, warna kulit Lana menurun dari pihak ayahnya, yang sepertinya
memiliki sedikit keturunan darah Arab.
Saat sesi pemotretan berlangsung, bayi
yang lahir di Banyuwangi dengan jalan caesar itu agak susah tersenyum – padahal
semua suporter sudah sedemikian heboh menggoda dan memancing senyumnya. Saat kupasangkan wig,
tantenya menginginkan wig itu terpasang dengan sempurna. Namun yang terjadi, wig
itu malah melorot ke bawah hingga menutupi kedua mata Lana. Tentu saja hal ini membuat Lana histeris karena tiba-tiba ia tak bisa melihat apa-apa. Lana menangis keras-keras.
Sekali menangis, Lana
susah sekali ditenangkan. Sudah beberapa kali ibunya memberinya ASI dan
menimang-nimang kesana kemari, tapi Lana tak juga diam. Ah, rupanya bayi lucu itu sedang amat lelah dan mengantuk. Terbukti, kemudian ia cepat sekali tertidur. Sebenarnya aku
sedikit agak kecewa karena seharusnya sesi pemotretan belum waktunya usai. Dalam hati, aku
tak habis pikir mengapa mereka memilih jam pemotretan yang terlalu siang – yang kebanyakan adalah waktu tidur siang anak.
Tapi ayah ibu dan
tante Lana tak pantang menyerah. Mereka semua antusias sekali membuat foto
Lana. Sampai-sampai Lana yang tertidur terpaksa dibangunkan berkali-kali. Itu membuatku
sedikit geli dan tertawa-tawa sendiri. Kasihan Lana, sepertinya ia sangat
capai… Bahkan saat sesi pemotretan berlangsung, Lana pun sempat tertidur
beberapa kali, tak kuat menahan matanya untuk tetap terbuka, tak peduli digendong dengan posisi apapun. Sementara itu, orang
tua dan tantenya sangat berhasrat besar untuk mencoba segala macam variasi
foto. Sayangnya, keadaan Lana yang sedang tidak mood foto semakin tak memungkinkan.
Kusarankan, kalau lain kali hendak berfoto kembali, pilih jam ketika Lana sedang
bersemangat. Mereka berkata akan membawa Lana kembali saat ulang tahun Lana
yang pertama nanti. ***




