Fabian Noah baru berusia tiga bulan. Bayi montok itu datang ke studio pada pukul empat sore. Biasanya, cuaca pada jam-jam tersebut seringkali hujan. Pada siang hari, hujan memang sempat deras. Namun menjelang sore, langit berubah merona cerah.
Noah, demikian panggilannya, datang bersama ibu dan kakak ibunya. Mereka mengendarai motor. Tak pelak, Noah sempat tertidur di jalan. Rupanya, semilir angin meninabobokannya.
Namun sesampai di studio, bayi montok itu lekas terbangun ketika diletakkan di atas matras. Seolah ia merasa siap untuk difoto, meski sempat terlihat bingung karena kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Sebenarnya ia adalah bayi yang pintar. Sama sekali tak rewel,meski agak sulit memancing senyum dan tawanya. Menurut ibunya, Noah memang bayi yang tak terlalu merepotkan. Ia hanya menangis jika merasa haus atau ngompol.
Untuk bayi-bayi seusia Noah, tak banyak kostum yang tersedia. Saya hanya memakaikannya kostum kumbang bayi. Selebihnya banyak menggunakan kreasi -- seperti handuk, bulu-bulu, atau dedaunan. Saya pun meminta sang ibu untuk foto bersama bayi Noah.
Ibu Noah sepertinya masih teramat muda. Kira-kira berusia dua puluh lima tahun atau di bawahnya. Itu terlihat dari caranya menggendong yang masih sedikit kurang luwes. Namun selama sesi pemotretan, baik ibu maupun anak bekerja sama dengan sangat baik.
Pemotretan berjalan selama kurang lebih empat puluh menit. Setelah itu, kami semua melihat hasil foto di komputer. Di sela aktivitas memilih foto, sang kakak dari ibu Noah sempat bercerita bahwa saat berusia dua puluh hari, Noah sempat nyaris tak terselamatkan. Saat itu, tetiba ia menderita demam hingga kejang-kejang. Keluarga membawa Noah ke unit gawat darurat di rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan, dokter mendiagnosa bahwa Noah menderita pendarahan otak. Salah satu solusinya adalah melakukan operasi pembedahan kepala. Namun itupun mengandung resiko; bayi meninggal, atau cacat.
Kata-kata dokter seperti sengatan petir di siang hari. Tak ada yang menyangka bayi semungil itu mendapatkan musibah seberat itu. Sempat ada rasa curiga, jangan-jangan pendarahan itu dipicu dari kesalahan perlakuan oleh dokter atau perawat ketika Noah lahir.
Keluarga Noah sempat merasa putus asa setelah mengetahui resiko yang dapat terjadi pada Noah. Belum lagi biaya pengobatan yang amat mahal. Tubuh Noah sempat menjadi amat kurus saat proses pengobatan di rumah sakit. Sang ibu banyak menangis melihat banyak selang di tubuh anaknya, juga jarum suntik yang tak henti-henti. Akhirnya mereka memilih pasrah, sekedar menjalankan terapi sisa pengobatan.
Namun sungguh ajaib, karena lambat laun, Noah berangsur-angsur sembuh -- meski tanpa operasi sekalipun. Tubuhnya pun kini menjadi lebih berisi. Sejauh ini, ia hanya mendapatkan ASI. Meski begitu, ia masih tetap harus rutin kontrol ke rumah sakit. ***
Noah, demikian panggilannya, datang bersama ibu dan kakak ibunya. Mereka mengendarai motor. Tak pelak, Noah sempat tertidur di jalan. Rupanya, semilir angin meninabobokannya.
Namun sesampai di studio, bayi montok itu lekas terbangun ketika diletakkan di atas matras. Seolah ia merasa siap untuk difoto, meski sempat terlihat bingung karena kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Sebenarnya ia adalah bayi yang pintar. Sama sekali tak rewel,meski agak sulit memancing senyum dan tawanya. Menurut ibunya, Noah memang bayi yang tak terlalu merepotkan. Ia hanya menangis jika merasa haus atau ngompol.
Untuk bayi-bayi seusia Noah, tak banyak kostum yang tersedia. Saya hanya memakaikannya kostum kumbang bayi. Selebihnya banyak menggunakan kreasi -- seperti handuk, bulu-bulu, atau dedaunan. Saya pun meminta sang ibu untuk foto bersama bayi Noah.
Ibu Noah sepertinya masih teramat muda. Kira-kira berusia dua puluh lima tahun atau di bawahnya. Itu terlihat dari caranya menggendong yang masih sedikit kurang luwes. Namun selama sesi pemotretan, baik ibu maupun anak bekerja sama dengan sangat baik.
Pemotretan berjalan selama kurang lebih empat puluh menit. Setelah itu, kami semua melihat hasil foto di komputer. Di sela aktivitas memilih foto, sang kakak dari ibu Noah sempat bercerita bahwa saat berusia dua puluh hari, Noah sempat nyaris tak terselamatkan. Saat itu, tetiba ia menderita demam hingga kejang-kejang. Keluarga membawa Noah ke unit gawat darurat di rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan, dokter mendiagnosa bahwa Noah menderita pendarahan otak. Salah satu solusinya adalah melakukan operasi pembedahan kepala. Namun itupun mengandung resiko; bayi meninggal, atau cacat.
Kata-kata dokter seperti sengatan petir di siang hari. Tak ada yang menyangka bayi semungil itu mendapatkan musibah seberat itu. Sempat ada rasa curiga, jangan-jangan pendarahan itu dipicu dari kesalahan perlakuan oleh dokter atau perawat ketika Noah lahir.
Keluarga Noah sempat merasa putus asa setelah mengetahui resiko yang dapat terjadi pada Noah. Belum lagi biaya pengobatan yang amat mahal. Tubuh Noah sempat menjadi amat kurus saat proses pengobatan di rumah sakit. Sang ibu banyak menangis melihat banyak selang di tubuh anaknya, juga jarum suntik yang tak henti-henti. Akhirnya mereka memilih pasrah, sekedar menjalankan terapi sisa pengobatan.
Namun sungguh ajaib, karena lambat laun, Noah berangsur-angsur sembuh -- meski tanpa operasi sekalipun. Tubuhnya pun kini menjadi lebih berisi. Sejauh ini, ia hanya mendapatkan ASI. Meski begitu, ia masih tetap harus rutin kontrol ke rumah sakit. ***


No comments:
Post a Comment