Sunday, 27 January 2013

Bertemu mama yang cantik...


Sebenarnya aku agak lupa nama bayi yang satu ini. Tapi jika tak salah ingat, orang tuanya memanggilnya Rawan…. Usianya menginjak satu tahun, dan sepertinya ia baru saja berulang tahun. 

Rawan tergolong bayi yang tak terlalu sulit dalam sesi pemotretan. Apalagi kedua orang tuanya pun cukup kooperatif. Tak jarang Rawan mengobral senyum dan tawanya, terutama ketika sang ayah yang menggodanya. Sepertinya, bocah laki-laki ini cenderung lebih dekat pada sang ayah.

Sesi pemotretan berlangsung tak terlalu lama. Saat kuperkirakan cukup, aku segera menyudahinya. Apalagi, kulihat mood Rawan pun mulai menurun. Rupanya memang benar, kondisi kesehatan Rawan sedang kurang prima. Di akhir pemotretan, ia mulai banyak menangis. Ayahnya sempat memeriksa suhu tubuh Rawan, dan ternyata tubuhnya agak sedikit demam. Ia segera mengambil susu botol dan menyusuinya – sementara sang ibu mulai sibuk menyeleksi foto.

Ibu Rawan tergolong wanita yang cukup cantik dan modis. Ia bercerita, katanya sebentar lagi hendak membuka sebuah butik busana muslim yang ternyata tempatnya tak terlalu jauh dari studio, yakni di depan panti asuhan tempatku mengajar. Rupanya ia menyewa pada Pak Kiai pemilik panti asuhan tersebut. Di hari yang lain, aku sempat melewati (calon) tokonya  yang didekorasi dengan nuansa pink, yang masih dalam tahap renovasi. Sempat pula aku bercerita pada Bu Nyai, istri Pak Kiai panti asuhan tersebut, bahwa yang menyewa tokonya itu pernah memotretkan anaknya di tempatku.

Aku dan Ibu Rawan sempat mengobrol banyak hal sembari memilih-milih foto; mulai dari harga sewa ruko, tempat pembuatan neon box, tempat grosir busana muslim di Jakarta, hingga soal blackberry dan tablet. Ia hanya menyewa ruko selama satu tahun. Sepertinya ia benar-benar harus menghemat anggaran usaha. Ah, ini mengingatkanku pada masa-masa awal aku mendirikan studio. Sangat menyenangkan mengobrol dengan wanita cantik itu, nyaris seperti kawan sendiri yang sudah lama kenal. Ia merayuku, supaya nanti kalau tokonya sudah buka, aku berbelanja di tempatnya. Aku juga menyarankan supaya foto Rawan diperbesar menggunakan kertas banner dan dipajang di tokonya – seperti kebanyakan customerku yang lain.

Saat pengambilan foto dan melihat-lihat hasilnya, ia bercerita bahwa tetangga sebelah tokonya, sebuah toko pigura, memajang foto anaknya dalam ukuran besar, yang memang pernah foto di studio beberapa tahun lalu. Ia terheran, mengapa foto yang terpajang tersebut memiliki logo BabyLove Studio -- sementara foto-fotonya tak berlogo. Kujelaskan, bahwa aku hanya memberi logo untuk yang melakukan perbesaran di atas 10R. Ibu Rawan hanya mengambil paket foto dan tidak melakukan perbesaran, jadi ia hanya menerima foto seukuran 4R. Tentu saja ini adalah salah satu alasan mengapa harga cetak ulang perbesaran di studioku sedikit lebih mahal daripada di laboratorium foto umumnya. Jawabannya adalah Logo. ***



No comments:

Post a Comment